Kabel Putus Tertimpa Kambing ???  

Diposting oleh andige

Saat aku mulai bekerja di Palembang sekitar medio tahun 1974, jaringan transmisi : Trans Sumatra Micro Wave (TSMW) sudah selesai dipasang sehingga jaringan Transmisi Microwave Jawa Bali sudah bisa dikoneksikan ke TSMW. Namun saat itu belum bisa difungsikan untuk fasilitas SLJJ seperti sekarang karena masih tahap uji-coba.
Nah untuk transmisi telegrap khususnya untuk kota-kota setingkat kabupaten di Sumatera Selatan termasuk Lampung, Jambi dan Bengkulu masih menggunakan jaringan phisik tembaga yang ditumpangkan pada saluran telepon yang lebih dikenal saat itu dengan carrier (istilah yang salah kaprah!) dan disalurkan melalui jaringan sepanjang rel kereta api (kecuali kota-kota kabupaten yang dilalui TSMW).
Seingatku, kejadian ini terjadi sekitar tahun 1975an, saat itu dilaporkan hubungan transmisi telegrap antara Palembang - Lahat terputus. Setelah ditelusuri penyebabnya, dilaporkan bahwa ada kabel yang putus karena tertimpa kambing.
Hah ?? Aku tidak percaya dengan laporan ini ! Logikaku mana mungkin ada kambing yang bisa memanjat tiang telepon dan memutuskan kabelnya. Ternyata setelah di crosscheck dengan rekan teknisi di Lahat, aku mendapat keterangan yang lebih jelas. Rupanya jaringan yang dipasang sepanjang rel kereta api melalui perbukitan yang curam dan kemudian ada kambing yang terperosok dari bukit curam itu dan jatuh menimpa kabel yang mengakibatkan kabel putus ! Makmano kalu mak'ini ...... ??? (bahasa Palembang yang artinya bagaimana kalau begini?)

Menjadi "Kepala Suku" !  

Diposting oleh andige

Ketika tahun 1995 aku pindah rumah dan tinggal di BSD Area, Tangerang awalnya berangkat ke kantor dan pulang kerumah aku tetap menggunakan transportasi Bis Kota. Saat itu aku masih berugas di KDTJP dan lokasi kantor ku ada di Merdeka Selatan atau lebih dikenal dengan sebutan Gambir-1 atau Gambir saja.
Kemudian ada rekan kerjaku yang tahu kalau aku sudah pindah ke BSD, dia mengajak aku mencoba pulang dengan menggunakan Kereta Api. Nah, dari sinilah bermulanya aku menjadi "Kepala Suku". Walaupun tidak setiap hari aku bisa pulang tepat waktu , aku mulai menggunakan transportasi Kereta Api dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Serpong untuk pulang ke rumah. Rupanya sebagai "pendatang baru" penumpang Kereta Api (KRD = Kereta Rel Diesel) Tanah Abang - Serpong, diantara rekan-rekan lain dari KDTJP aku yang paling "senior" baik dari sisi usia mau jabatan. Saat itu aku masih sebagai Kasubdin Transmisi di KDTJP, sedangkan rekan-rekan lain ada yang dari unit kerja Catu Daya, Telegrap, Telepon Umum, Sentral dan juga Ibu-Ibu para operator dari Unit Kerja Penerangan Lokal (108) dan Telepon Antar daerah (100).
Awalnya aku hanya bergabung dengan rekan yang aku kenal, tetapi lama kelamaan kami berkumpul dalam satu kelompok "Geng Kereta Api" dari KDTJP dan karena aku yang paling senior, rekan-rekanku menyebut aku dengan sebutan "Kepala Suku". Sepanjang perjalanan, grup kami selalu paling ramai ber "ha-ha hi-hi", sehingga pelan-pelan "anggota geng" bertambah ada yang dari Pertamina, Bank BDN dan Pegawai Swasta lainnya. Kami semua cukup akrab satu dengan lainnya, walaupun kemudian geng ini bubar karena adanya mutasi dan sebagainya. Saat aku kemudian bertugas di KDTJS aku bertemu kembali dengan 2 orang mantan anggota "Geng Kereta Api" dulu, dan bila ada waktu luang dan kesempatan kami selalu ber "ha-ha hi-hi" lagi mengenang masa-masa lalu.

Tidur Sambil Berdiri di Bis Kota !  

Diposting oleh andige

Sejak aku pertama kali ditugaskan di Jakarta pada medio tahun 1985 sampai dengan medio tahun 2000, alat transportasi yang aku gunakan untuk ke Kantor dan pulang ke Rumah adalah Bis Kota. Sekian lama menggunakan Bis Kota meninggalkan berbagai macam kenangan, dari "dijailin" orang atau "menjailin" orang, melihat para pencopet beraksi bahkan aku pernah duduk disamping "Jegger" nya pencopet sehingga aku bisa melihat para pencopet yang "menyetorkan" hasil jarahannya sampai dengan tidur sambil berdiri di bis kota.
Awalnya, aku tidak sengaja tertidur sambil berdiri di bis kota karena kelelahan. Tetapi lama kelamaan aku mulai menikmati tidur sambil berdiri bahkan tanpa berpegangan pada besi yang disediakan di bis kota untuk penumpang yang berdiri. Tapi ada syaratnya untuk bisa tidur sambil berdiri tanpa berpegangan pada alat apapun, yaitu bis kota harus penuh sesak sehingga untuk bergerakpun kita sulit. Nah, kalau naik bis kota dengan kondisi seperti ini, sambil mendekap tas kerjaku, aku mulai memejamkan mata. Bila bis kota mengerem atau mempercepat jalannya, umumnya kita akan bergerak kedepan atau kebelakang, aku mengikuti saja gerakan itu tanpa takut terjatuh karena "tertahan" oleh penumpang lain (saking penuhnya).
Memang tidur dengan cara seperti ini tidak bisa lama, sebab penumpang kadang berkurang karena ada yang turun pada pemberhentian/halte berikutnya, tetapi "tidur nyenyak" selama beberapa menit sudah cukup untuk mengurangi atau menghilangkan rasa ngantuk dan rasa lelah.

Mengoperasikan & Memelihara 3 Generasi Sentral  

Diposting oleh andige

Mungkin aku termasuk orang yang beruntung dari sekian banyak karyawan, karena bisa mengikuti untuk mengoperasikan & memelihara sentral dari Generasi yang pertama sampai Generasi selanjutnya.
Sentral pertama yang aku tangani adalah Sentral Telex type TW-39 buatan Siemens. Sentral ini masih sentral mekanik yang menggunakan selector untuk melakukan pemilihan digitnya. Pemilihan digit/angka masih menggunakan relay mekanik yang selanjutnya diteruskan untuk "menangkap" selektor yang bebas dimulai dari Pre Selector (PS), kemudian Group Selector (GW) dan terakhir Final Selector (LW). Mengoperasikan dan memelihara Sentral ini "relatif mudah" mengingat perangkatnya masih "besar-besar".
Selanjutnya Generasi kedua yang aku tangani adalah Sentral Telex TWK-9 juga buatan Siemens. Sentral ini menggantikan Sentral TW-39. Sentral ini sudah mulai menggunakan relay electonic & mecanic dan systemnya menggunakan Common Control. Mengoperasikan Sentral ini sedikit rumit, karena kelemahan sentral ini adalah relay mekanis nya mudah aus sehingga bila sudah aus atau rusak harus diganti. Semua pekerjaan perbaikan dan mengatasi gangguan dilakukan oleh petugas sentral sendiri. Aku pernah mengalami gangguan sentral yang sedemikian rumitnya sehingga baru selesai setelah bekerja selama 4 hari & 3 malam. Bila sudah ada gangguan kita harus membuka semua dokumen sirkit yang terkait, hand book serta catatan sewaktu pelatihan.
Generasi ketiga adalah Sentral Telex EDX-C juga masih buatan Siemens. Sentral ini menggantikan Sentral TWK-9, untuk mengoperasikan & memelihara sentral EDX-C ini aku bahkan sempat terpilih untuk mengikuti Training di Muenchen Jerman khusus mempelajari Database Sentral. Sayangnya, aku tidak lama mengoperasikan sentral EDX-C ini karena dengan perjalanan waktu aku harus mutasi ke unit kerja lain. Dan selanjutnya dengan perkembangan teknologi saat ini, Sentral EDX-C akhirnya dilakukan cut-off pada September 2007 dimana aku sendiri sudah menjalani MPP.

"Dikerjain" Operator Morse !  

Diposting oleh andige

Ketika aku mulai bekerja pada tahun 1974, pengiriman dan penerimaan berita dengan menggunakan Morse masih digunakan khususnya untuk berkomunikasi antara Palembang ke/dari Pangkal Pinang (Bangka), Tanjung Pandan (Belitung) & Kuala Tungkal (Jambi). Media transmisi yang digunakan saat itu menggunakan HF (High Frequency) sehingga bila ada masalah transmisi harus berkoordinasi dengan Stasiun Radio Pengirim atau Penerima yang lokasinya juga berlainan.
Nah, sebagai karyawan baru saat itu aku pernah "dikerjain" oleh seorang operator morse yang memang "jago" dalam mengirim atau menerima berita menggunakan morse. Saat itu aku bertugas "Dinas Siang" dan si operator rupanya tahu itu dan dia menghubungi aku via Telepon melaporkan bahwa alat "ketokan" morse yang dia gunakan tidak bisa digunakan untuk mengirim morse.
Sebagai petugas teknik dan sesuai dengan prosedur kerja, aku mulai menyusuri sirkit yang digunakan untuk mengirim morse. Aku menggunakan AVO meter untuk memeriksa semua titik-titik ukur sampai dengan terminal yang menuju kearah Stasiun Radio Pemancar. Selidik punya selidik, akhirnya diketahui bahwa Relay mekanik yang digunakan untuk memutus arus tidak bekerja dengan baik. Setelah aku selidiki lebih jauh ternyata "kontak relay" tersebut lengket karena " di lem" sehingga tidak bisa berfungsi seperti seharusnya. Setelah aku bersihkan secara hati-hati relay tersebut, akhirnya perangkat bisa normal kembali. Anehnya, pada saat aku menelusuri gangguan tersebut, si operator yang melaporkan adanya gangguan "menghilang" alias tidak ada ditempat.
Keesokan harinya aku laporkan kejadian ini kepada Kepala Seksi-ku, dan langsung beliau memanggil si operator dan menegur agar tidak mengulang kejadian tersebut. Ternyata dampak dari keisengan si operator terhadap-ku, pengiriman & penerimaan berita menjadi terlambat karena rupanya setelah perangkat normal si operator tidak melanjutkan tugasnya untuk mengirimkan dan menerima berita. Dengan sedikit "ancaman" akan melaporkan kepada yang berwajib dari Kepala Seksi ku bila terjadi lagi hal yang sama kepada "sang operator" karena yang dia lakukan "sadar atau tidak sadar" sudah merupakan tindakan "sabotase" selanjutnya si operator tidak berani lagi melakukan hal tersebut. Selanjutnya pengiriman & penerimaan berita menggunakan morse masih dipergunakan sampai dengan tahun 1976 dan setelah Satelit Palapa diluncurkan, komunikasi menggunakan morse dihentikan dan digantikan dengan Telex yang menggunakan media transmisi melalui SKSD Palapa.

Minyaaaak !!  

Diposting oleh andige

Kita semua tentu sudah sering melihat pemberitaan di media massa, betapa banyaknya masyarakat saat ini yang kesulitan mendapatkan minyak tanah. Dimana mana orang mengantri untuk mendapatkannya, bahkan sampai ada seorang Ibu rumah tangga yang akhirnya meninggal dunia karena kelelahan mengantri.
Kondisi seperti ini aku pernah mengalaminya, saat itu aku masih sekolah di Sekolah Rakyat (SR atau kalau sekarang sama dengan SD) sekitar awal tahun 1960an. Kesulitan ekonomi saat itu nyaris sama dengan kondisi saat ini. Hanya bedanya kalau sekarang orang mengantri dengan membawa jerigen plastik kecil sambil berebutan, maka aku dulu mengantri pakai ember kecil sehingga membawanya juga harus berhati-hati agar tidak tumpah dan kadang tidak perlu antri karena jumlah penduduknya sangat berbeda dengan kondisi sekarang.
Dampak kesulitan ekonomi saat itu yang juga dialami rekan ku roed58 yang sama2 pernah bekerja di KDTx PG, aku memang masih bisa makan 3 kali sehari, tetapi sarapan hanya makan kentang rebus yang biar ada rasanya kadang dimakan pakai kecap, kemudian siang hari baru makan nasi tetapi nasinya dicampur dengan jagung yang sudah ditumbuk biar makan sedikit tapi mengenyangkan, kemudian makan malam sama dengan sarapan pagi makan kentang lagi atau kadang makan bulgur. (Saat itu bulgur yang aku tahu, katanya sih "makanan kuda" !)
Berbahagialah anda-anda yang tidak pernah mengalami masa-masa sulit yang pernah aku rasakan !

Mensukseskan PEMILU !  

Diposting oleh andige

Sebagai karyawan dengan Korps Teknik, sudah bisa dipastikan bahwa setiap diadakan PEMILU, aku pasti harus siap bertugas untuk mendukung dan mensukseskan FASTEL yang dipergunakan dalam penyampaian informasi (bila diperlukan).
Sejak aku masih di KDTx PG sampai dengan PEMILU terakhir tahun 2004 aku masih terlibat didalamnya walaupun hanya mempersiapkan Fastel di area KDT masing2.
Tetapi bagiku pelaksanaan persiapan Fastel PEMILU yang paling berkesan adalah pelaksananaan PEMILU Tahun 1997. Mengapa ? Karena aku terlibat langsung mempersiapkan Fastel di Kantor Lembaga Pemilihan Umum (sekarang KPU) . Saat itu aku masih sebagai Kasubdin Transmisi di KDTJP yang secara kebetulan lokasi Kantor LPU berada dalam area pelayanan KDTJP sehingga mau tidak mau KDTJP yang harus mempersiapkan semua Fastel yang diperlukan di LPU.
Persiapan panjang dimulai sejak tahun 1995 dari rencana, pelaksanaan gladi secara periodik sampai pada pelaksanaan di hari H nya. Walaupun Koordinator pelaksanaan persiapan Fastel ini dilakukan oleh Koord. Fastel Khusus dari KP (saat itu dijabat oleh pak ES) tetapi pelaksanaan dilapangan khususnya di Kantor LPU aku yang mengkoordinir.

Bayangkan seorang Kasubdin saat itu bisa "memerintah" seorang KADIN agar mempersiapkan jaringan untuk memenuhi permintaan Fastel yang diperlukan. Banyak permintaan mendadak yang pada pelaksanaannya harus lintas KDT tetapi Alhamdulillah rata-rata selesai dalam 2 jam karena kerjasama yang baik dengan seluruh Unit Kerja dari semua KDT di Jakarta.
Yang terkesan buatku saat itu adalah pada saat pelaksanaan hari H, aku bertugas di LPU bersama WkKWT4 (saat itu dijabat pak JV) bahkan beliau terus menerus berada di LPU sampai kesokan harinya karena Beliau ingin memastikan semua Fastel dapat terlaksana dengan baik.
Diakhir pelaksanaan Pemilu, SekJen LPU saat itu menyatakan sangat puas dengan hasil kerjaku bahkan saat itu beliau bersedia mengeluarkan "Rekomendasi" untukku, tetapi aku menolaknya karena bagiku semua ini adalah tugasku dan suatu kebanggaan tersendiri bagiku karena pelaksanaan Pemilu dapat berjalan dengan lancar dan dampak dari sukses ini, pak JS dari Bid Operasi & Network WT4 memberi julukan baru untuk aku. Namaku diberi tambahan menjadi A...Pemilu !

Dari Job Tender ke Job Tender !  

Diposting oleh andige

Diawal tahun 90an ketika diadakan Restrukturisasi di W04 (RE2 sekarang), dimana Dinas-Dinas pendukung/support dibubarkan dan karyawannya disalurkan masuk ke KDTL di seluruh W04. Aku kebagian masuk ke KDTJP, karena kebetulan saat itu aku masih masuk CMG nya Stlx EDX-C dan yang terbesar ada di STO GB. Sebagai karyawan eks Dinas pendukung aku masuk ke Dinas OpHar SENTRADAYA.
Nah dengan adanya Restrukturisasi ini maka organisasi di KDTL bertambah khususnya untuk tingkat Urusan dan Sub Dinas. Bila di KDTL lain pengisian formasi dilakukan secara langsung, maka di KDTLJP lain dari yang lain, atas inisiatif KKDTLJP (waktu itu KKDTJP pak WB) dilakukan Job Tender. Semua karyawan setingkat KASI di wawancara oleh para KABAG/KADIN/KASENTEL plus KKDT nya sendiri. Hasilnya, Alhamdulillah aku mendapat tugas baru menjadi Kasubdin Transmisi di Dinas OpHar SENTRADAYA di KDTJP.

Job Tender yang kedua, awalnya aku tidak tahu kalau ini akan berakhir di Job Tender karena diawal tahun 2000 semua karyawan setingkat KAUR & KASUBDIN se RE2 dilakukan Asessment dan terakhir sekali aku dipanggil untuk mengikuti Job Tender dengan persyaratan mempresentasikan suatu program sesuai pilihan dan di wawancara oleh 3 orang setingkat GM. Ini adalah system Job Tender pertama di Re2 saat itu dan akhirnya aku berhasil dan mendapat amanah untuk menjadi KADINJAR di KDTJS.
Job Tender yang selanjutnya yang aku ikuti adalah Job Tender untuk posisi Deputy GM KDT di RE2. Kali ini aku gagal dalam Job Tender ini, tetapi aku merasa puas dan bisa membanggakan diriku sendiri karena dari 115 peserta (kalau tidak salah) yang punya NIK 52xxxx hanya 3 orang termasuk aku dan pada saat dilakukan feed-back hasil Job Tender ternyata aku mendapat urutan lulus yang ke 36 dari 115. Untuk aku, ini suatu prestasi mengingat aku hanya lulusan D3 sedangkan mayoritas peserta adalah S1 atau S2. Hasil Job Tender ini juga memacu aku pribadi untuk terus belajar dan belajar khususnya untuk mendukung pekerjaan dan tugas-tugasku.

Jadi Komandan Upacara  

Diposting oleh andige

Waktu itu aku masih bertugas di KDTJP, masih sebagai Kepala Seksi (KASI) bergantian ditunjuk sebagai pelaksana Upacara Bendera setiap tanggal 17. Sebagai Pembaca Naskah-Naskah ya biasa-biasa saja walaupun sedikit gemetaran, nah begitu ditunjuk menjadi Komandan Upacara (saat itu aku sudah menjadi KASUBDIN atau Asman sekarang) paniknya bukan main. Mengapa ? Jujur saja, saat itu aku orangnya "nggak pedean" (istilah sekarang) karena membayangkan memimpin banyak orang agar upacara bisa sukses terlaksana dengan baik apakah aku mampu ?
Ternyata benar, didepan banyak orang pada saat merapihkan barisan suaraku terdengar gemetaran sama dengan kakiku yang tidak bisa aku sembunyikan. Terlebih lagi pada saat Pembina Upacara masuk lapangan upacara (saat itu KKDTJP adalah pak SGP), kedua kakiku gemetaran sangat hebat mungkin bila orang melihat dikira aku sakit. Tapi pada saat itu aku ingat "ilmu" waktu BINTAL di PUSDIKHUB Cimahi dan waktu SUSPIM III serta satu lagi tiba2 aku punya prinsip, kapan lagi waktunya bisa "membentak" KKDT ! Pada saat penghormatan aku masih gemetaran, nah pada saat laporan aku berteriak sekeras-kerasnya : LAPOR ! ..... dst dan hasilnya ternyata gemetaranku hilang dan upacara bisa berlangsung sampai selesai dengan baik. Selanjutnya aku malah jadi ketagihan, kalau ditunjuk menjadi Komandan Upacara ya ... enjoy aja .... !

Kenangan Saat Dinas Malam Pertama  

Diposting oleh andige

Ditempat aku bekerja, semua teknisi dituntut untuk mengerti dan memahami operasi dan pemeliharaan semua perangkat-perangkat operasional antara lain : Sentral Telex, Perangkat Transmisi Telegrap, Terminal Telegrap atau lebih dikenal dengan Teleprinter atau Pesawat Telex sampai dengan Genset. Bahkan yang unik saat itu, juga harus memahami perangkat untuk pengiriman & penerimaan berita menggunakan Morse termasuk perangkat transmisi yang menggunakan kawat tembaga sebagai media carrier nya.
Nah, ketika aku harus bertugas malam hari (ditempatku bekerja ada tiga shift, pagi, siang dan malam) yang harus dilakukan sendirian mengingat kalau malam hari, relatif kegiatan operasional sudah jauh berkurang, hanya perbankan saja yang masih sering menggunakan komunikasi via telex sampai malam.
Oh iya, Kantor tempatku bekerja adalah sebuah bangunan tua bekas peninggalan jaman Belanda (bisa dibayangkan kunonya kantorku), lantai untuk memasang perangkat sentral dan lainnya saja masih terbuat dari kayu (entah kayu apa, yang jelas sudah lama tapi masih tetap kuat!). Ditambah cerita-cerita seram yang aku dengar dengan "kekunoan" bangunan kantor serta kebetulan juga tidak jauh dibelakang kantorku terletak "Kamar Mayat" sebuah Rumah sakit Angkatan Darat.
Nah dengan kondisi demikian aku melaksanakan tugasku untuk Dinas Malam. Menjelang tengah malam ada satu Selector Incoming (Sentral Telex saat itu masih menggunakan selector, sentral TW-39 buatan Siemens atau lebih dikenal dengan system step by step) bergerak secara kontinyu. Aku lihat dari kejauhan lampu indikasi trunk dengan Jakarta menyala dan padam bergantian seiring dengan gerak selector. Aku hanya berpikir positif, kemungkinan rekan Jakarta sedang melakukan Test Trunk tetapi anehnya mengapa tetap hanya satu trunk saja yang menyala dan satu selector yang bergerak padahal semuanya ada 9 trunk ke arah jakarta dan 9 Selector Incoming. Karena penasaran, aku mendekat ke rack tempat indikator dan selector tersebut, tetapi apa yang terjadi setelah aku disitu ! Semua selector itu tiba-tiba bergerak serentak dan langsung release kembali secara bersamaan dengan suara berderak yang sangat sangat mengagetkan ! Satu selector saja sudah keras bunyinya apalagi sembilan secara bersamaan ! Aku begitu terkejut dan terkesima dengan kondisi saat itu, karena secara teori teknis tidak mungkin hal itu terjadi. Setelah itu, semua Trunk dan Selector normal kembali bahkan tidak ada lampu menyala dan selector yang bergerak sama sekali sampai pagi harinya. Rupanya "penghuni" kantorku ingin "berkenalan" denganku karena malam-malam selanjutnya bila aku dinas tidak pernah lagi mengalami hal tersebut. Kejadian dinas malam pertama ini tidak pernah aku lupakan, sampai sekarang !

Penugasan Pertama  

Diposting oleh andige

Aku lulus dari Pendidikan Menengah Teknik Telekomunikasi (PMTNT) yang setara dengan D2 Jurusan Teknik Telegrap pada Juli 1974. Selanjutnya aku ditugaskan untuk mulai bekerja di KDTx Palembang yang saat itu masih masuk W3. Sebagai orang yang awam dengan kota Palembang, sedikit-sedikit aku mencari informasi tentang kota itu dan dengan bekal informasi yang minim berangkatlah aku kesana. Untuk menghemat biaya, aku menggunakan transportasi darat, dari Bandung menuju Merak menggunakan Bis Malam DAMRI, kemudian dilanjutkan dengan kapal PJKA (belum ada ferry saat itu) menuju Panjang (Pelabuhan Bakahuni juga belum ada) dan terakhir disambung lagi dengan naik Kereta Api Malam menuju Palembang.
Diperjalanan aku berkenalan dengan seseorang yang asli orang dari Palembang dan yang bersangkutan bersedia mengantarkan aku sampai Hotel yang rencananya aku akan menginap.
Nah "adventurer" pertama yang aku alami ketika sampai di stasiun Kertapati Palembang, karena ikut teman aku langsung diajak naik "ketek" (perahu kecil / sampan) menyeberangi sungai Musi. Wuaduh, gemetaran sekali waktu itu melihat sungai Musi yang selebar itu (biasanya hanya lihat Cikapundung he he he ) mana aku tidak bisa berenang dan bawa koper besar (maklum orang pindahan!) dan ombak-ombak kecil bila bertemu dengan kapal yang lebih besar sehingga membuat ketek bergoyang-goyang tidak karuan. Akhirnya sampai juga aku dirumah temanku diseberang sungai Musi dan aku diantarkan sampai ketempat aku menginap. Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang selama satu hari dan dua malam, aku sampai juga ke Palembang.

Selamat Datang Andige's Blog !  

Diposting oleh andige

Hari ini aku membuat Blog lagi, setelah beberapa Blog aku buat sebagai hasil "pembelajaranku" tentang Blog. Kali ini aku membuat Blog untuk menceritakan masa-masa kehidupanku selama ini khususnya tentang saat-saat ketika aku masih bekerja aktif sebagai seorang karyawan di salah satu BUMN di negara yang aku cintai ini.
Aku sendiri adalah seorang Calon Pensiunan karena saat ini aku masih menjalani Masa Persiapan Pensiun (MPP) dan untuk mengisi waktu aku banyak melakukan hal yang bisa dilakukan dari rumah. Maklum "pikiran tua-ku" masih belum mau berhenti untuk terus belajar dan belajar (self-learning) apa saja termasuk belajar membuat Blog.
Mudah-mudahan tulisanku di Blog ini bisa berkenan dan bermanfaat untuk semua dan siapa saja yang berminat membacanya.

Terimakasih.