Tampilkan postingan dengan label 1970an. Tampilkan semua postingan

Kabel Putus Tertimpa Kambing ???  

Diposting oleh andige

Saat aku mulai bekerja di Palembang sekitar medio tahun 1974, jaringan transmisi : Trans Sumatra Micro Wave (TSMW) sudah selesai dipasang sehingga jaringan Transmisi Microwave Jawa Bali sudah bisa dikoneksikan ke TSMW. Namun saat itu belum bisa difungsikan untuk fasilitas SLJJ seperti sekarang karena masih tahap uji-coba.
Nah untuk transmisi telegrap khususnya untuk kota-kota setingkat kabupaten di Sumatera Selatan termasuk Lampung, Jambi dan Bengkulu masih menggunakan jaringan phisik tembaga yang ditumpangkan pada saluran telepon yang lebih dikenal saat itu dengan carrier (istilah yang salah kaprah!) dan disalurkan melalui jaringan sepanjang rel kereta api (kecuali kota-kota kabupaten yang dilalui TSMW).
Seingatku, kejadian ini terjadi sekitar tahun 1975an, saat itu dilaporkan hubungan transmisi telegrap antara Palembang - Lahat terputus. Setelah ditelusuri penyebabnya, dilaporkan bahwa ada kabel yang putus karena tertimpa kambing.
Hah ?? Aku tidak percaya dengan laporan ini ! Logikaku mana mungkin ada kambing yang bisa memanjat tiang telepon dan memutuskan kabelnya. Ternyata setelah di crosscheck dengan rekan teknisi di Lahat, aku mendapat keterangan yang lebih jelas. Rupanya jaringan yang dipasang sepanjang rel kereta api melalui perbukitan yang curam dan kemudian ada kambing yang terperosok dari bukit curam itu dan jatuh menimpa kabel yang mengakibatkan kabel putus ! Makmano kalu mak'ini ...... ??? (bahasa Palembang yang artinya bagaimana kalau begini?)

Mengoperasikan & Memelihara 3 Generasi Sentral  

Diposting oleh andige

Mungkin aku termasuk orang yang beruntung dari sekian banyak karyawan, karena bisa mengikuti untuk mengoperasikan & memelihara sentral dari Generasi yang pertama sampai Generasi selanjutnya.
Sentral pertama yang aku tangani adalah Sentral Telex type TW-39 buatan Siemens. Sentral ini masih sentral mekanik yang menggunakan selector untuk melakukan pemilihan digitnya. Pemilihan digit/angka masih menggunakan relay mekanik yang selanjutnya diteruskan untuk "menangkap" selektor yang bebas dimulai dari Pre Selector (PS), kemudian Group Selector (GW) dan terakhir Final Selector (LW). Mengoperasikan dan memelihara Sentral ini "relatif mudah" mengingat perangkatnya masih "besar-besar".
Selanjutnya Generasi kedua yang aku tangani adalah Sentral Telex TWK-9 juga buatan Siemens. Sentral ini menggantikan Sentral TW-39. Sentral ini sudah mulai menggunakan relay electonic & mecanic dan systemnya menggunakan Common Control. Mengoperasikan Sentral ini sedikit rumit, karena kelemahan sentral ini adalah relay mekanis nya mudah aus sehingga bila sudah aus atau rusak harus diganti. Semua pekerjaan perbaikan dan mengatasi gangguan dilakukan oleh petugas sentral sendiri. Aku pernah mengalami gangguan sentral yang sedemikian rumitnya sehingga baru selesai setelah bekerja selama 4 hari & 3 malam. Bila sudah ada gangguan kita harus membuka semua dokumen sirkit yang terkait, hand book serta catatan sewaktu pelatihan.
Generasi ketiga adalah Sentral Telex EDX-C juga masih buatan Siemens. Sentral ini menggantikan Sentral TWK-9, untuk mengoperasikan & memelihara sentral EDX-C ini aku bahkan sempat terpilih untuk mengikuti Training di Muenchen Jerman khusus mempelajari Database Sentral. Sayangnya, aku tidak lama mengoperasikan sentral EDX-C ini karena dengan perjalanan waktu aku harus mutasi ke unit kerja lain. Dan selanjutnya dengan perkembangan teknologi saat ini, Sentral EDX-C akhirnya dilakukan cut-off pada September 2007 dimana aku sendiri sudah menjalani MPP.

"Dikerjain" Operator Morse !  

Diposting oleh andige

Ketika aku mulai bekerja pada tahun 1974, pengiriman dan penerimaan berita dengan menggunakan Morse masih digunakan khususnya untuk berkomunikasi antara Palembang ke/dari Pangkal Pinang (Bangka), Tanjung Pandan (Belitung) & Kuala Tungkal (Jambi). Media transmisi yang digunakan saat itu menggunakan HF (High Frequency) sehingga bila ada masalah transmisi harus berkoordinasi dengan Stasiun Radio Pengirim atau Penerima yang lokasinya juga berlainan.
Nah, sebagai karyawan baru saat itu aku pernah "dikerjain" oleh seorang operator morse yang memang "jago" dalam mengirim atau menerima berita menggunakan morse. Saat itu aku bertugas "Dinas Siang" dan si operator rupanya tahu itu dan dia menghubungi aku via Telepon melaporkan bahwa alat "ketokan" morse yang dia gunakan tidak bisa digunakan untuk mengirim morse.
Sebagai petugas teknik dan sesuai dengan prosedur kerja, aku mulai menyusuri sirkit yang digunakan untuk mengirim morse. Aku menggunakan AVO meter untuk memeriksa semua titik-titik ukur sampai dengan terminal yang menuju kearah Stasiun Radio Pemancar. Selidik punya selidik, akhirnya diketahui bahwa Relay mekanik yang digunakan untuk memutus arus tidak bekerja dengan baik. Setelah aku selidiki lebih jauh ternyata "kontak relay" tersebut lengket karena " di lem" sehingga tidak bisa berfungsi seperti seharusnya. Setelah aku bersihkan secara hati-hati relay tersebut, akhirnya perangkat bisa normal kembali. Anehnya, pada saat aku menelusuri gangguan tersebut, si operator yang melaporkan adanya gangguan "menghilang" alias tidak ada ditempat.
Keesokan harinya aku laporkan kejadian ini kepada Kepala Seksi-ku, dan langsung beliau memanggil si operator dan menegur agar tidak mengulang kejadian tersebut. Ternyata dampak dari keisengan si operator terhadap-ku, pengiriman & penerimaan berita menjadi terlambat karena rupanya setelah perangkat normal si operator tidak melanjutkan tugasnya untuk mengirimkan dan menerima berita. Dengan sedikit "ancaman" akan melaporkan kepada yang berwajib dari Kepala Seksi ku bila terjadi lagi hal yang sama kepada "sang operator" karena yang dia lakukan "sadar atau tidak sadar" sudah merupakan tindakan "sabotase" selanjutnya si operator tidak berani lagi melakukan hal tersebut. Selanjutnya pengiriman & penerimaan berita menggunakan morse masih dipergunakan sampai dengan tahun 1976 dan setelah Satelit Palapa diluncurkan, komunikasi menggunakan morse dihentikan dan digantikan dengan Telex yang menggunakan media transmisi melalui SKSD Palapa.

Kenangan Saat Dinas Malam Pertama  

Diposting oleh andige

Ditempat aku bekerja, semua teknisi dituntut untuk mengerti dan memahami operasi dan pemeliharaan semua perangkat-perangkat operasional antara lain : Sentral Telex, Perangkat Transmisi Telegrap, Terminal Telegrap atau lebih dikenal dengan Teleprinter atau Pesawat Telex sampai dengan Genset. Bahkan yang unik saat itu, juga harus memahami perangkat untuk pengiriman & penerimaan berita menggunakan Morse termasuk perangkat transmisi yang menggunakan kawat tembaga sebagai media carrier nya.
Nah, ketika aku harus bertugas malam hari (ditempatku bekerja ada tiga shift, pagi, siang dan malam) yang harus dilakukan sendirian mengingat kalau malam hari, relatif kegiatan operasional sudah jauh berkurang, hanya perbankan saja yang masih sering menggunakan komunikasi via telex sampai malam.
Oh iya, Kantor tempatku bekerja adalah sebuah bangunan tua bekas peninggalan jaman Belanda (bisa dibayangkan kunonya kantorku), lantai untuk memasang perangkat sentral dan lainnya saja masih terbuat dari kayu (entah kayu apa, yang jelas sudah lama tapi masih tetap kuat!). Ditambah cerita-cerita seram yang aku dengar dengan "kekunoan" bangunan kantor serta kebetulan juga tidak jauh dibelakang kantorku terletak "Kamar Mayat" sebuah Rumah sakit Angkatan Darat.
Nah dengan kondisi demikian aku melaksanakan tugasku untuk Dinas Malam. Menjelang tengah malam ada satu Selector Incoming (Sentral Telex saat itu masih menggunakan selector, sentral TW-39 buatan Siemens atau lebih dikenal dengan system step by step) bergerak secara kontinyu. Aku lihat dari kejauhan lampu indikasi trunk dengan Jakarta menyala dan padam bergantian seiring dengan gerak selector. Aku hanya berpikir positif, kemungkinan rekan Jakarta sedang melakukan Test Trunk tetapi anehnya mengapa tetap hanya satu trunk saja yang menyala dan satu selector yang bergerak padahal semuanya ada 9 trunk ke arah jakarta dan 9 Selector Incoming. Karena penasaran, aku mendekat ke rack tempat indikator dan selector tersebut, tetapi apa yang terjadi setelah aku disitu ! Semua selector itu tiba-tiba bergerak serentak dan langsung release kembali secara bersamaan dengan suara berderak yang sangat sangat mengagetkan ! Satu selector saja sudah keras bunyinya apalagi sembilan secara bersamaan ! Aku begitu terkejut dan terkesima dengan kondisi saat itu, karena secara teori teknis tidak mungkin hal itu terjadi. Setelah itu, semua Trunk dan Selector normal kembali bahkan tidak ada lampu menyala dan selector yang bergerak sama sekali sampai pagi harinya. Rupanya "penghuni" kantorku ingin "berkenalan" denganku karena malam-malam selanjutnya bila aku dinas tidak pernah lagi mengalami hal tersebut. Kejadian dinas malam pertama ini tidak pernah aku lupakan, sampai sekarang !

Penugasan Pertama  

Diposting oleh andige

Aku lulus dari Pendidikan Menengah Teknik Telekomunikasi (PMTNT) yang setara dengan D2 Jurusan Teknik Telegrap pada Juli 1974. Selanjutnya aku ditugaskan untuk mulai bekerja di KDTx Palembang yang saat itu masih masuk W3. Sebagai orang yang awam dengan kota Palembang, sedikit-sedikit aku mencari informasi tentang kota itu dan dengan bekal informasi yang minim berangkatlah aku kesana. Untuk menghemat biaya, aku menggunakan transportasi darat, dari Bandung menuju Merak menggunakan Bis Malam DAMRI, kemudian dilanjutkan dengan kapal PJKA (belum ada ferry saat itu) menuju Panjang (Pelabuhan Bakahuni juga belum ada) dan terakhir disambung lagi dengan naik Kereta Api Malam menuju Palembang.
Diperjalanan aku berkenalan dengan seseorang yang asli orang dari Palembang dan yang bersangkutan bersedia mengantarkan aku sampai Hotel yang rencananya aku akan menginap.
Nah "adventurer" pertama yang aku alami ketika sampai di stasiun Kertapati Palembang, karena ikut teman aku langsung diajak naik "ketek" (perahu kecil / sampan) menyeberangi sungai Musi. Wuaduh, gemetaran sekali waktu itu melihat sungai Musi yang selebar itu (biasanya hanya lihat Cikapundung he he he ) mana aku tidak bisa berenang dan bawa koper besar (maklum orang pindahan!) dan ombak-ombak kecil bila bertemu dengan kapal yang lebih besar sehingga membuat ketek bergoyang-goyang tidak karuan. Akhirnya sampai juga aku dirumah temanku diseberang sungai Musi dan aku diantarkan sampai ketempat aku menginap. Alhamdulillah, akhirnya setelah menempuh perjalanan panjang selama satu hari dan dua malam, aku sampai juga ke Palembang.

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.